Kebijakan Moneter
NAMA:
ARNITA RANTE
NIM:
B1A119008
KELAS:
A
KEBIJAKAN MONETER DAN
PEREKONOMIAN TERBUKA
Kebijakan
moneter adalah kebijakan yang di keluarkan bank sentral untuk stabilitasi
ekonomi seperti mengatur jumlah uang yang beredar.
·
Keterbukaan ekonomi suatu negara turut
memberikan konsekuensi pada perencanaan dan pelaksanaan kebijakan moneter.
·
Transaksi perdagangan dan keuangan
internasional yang dilakukan oleh suatu negara mempengaruhi aliran dana luar
negeri, sehingga pada gilirannya turut mempengaruhi jumlah uang yang beredar
dalam perekonomian.
·
Konsep trilemma kebijakan (impossible
trinity) menjelaskan bahwa suatu negara dihadapkan pada salah satu sisi dari
segitiga pilihan kebijakan (pengelolaan nilai tukar, keleluasaan arus modal,
dan otonomi kebijakan moneter).
Tujuan
kebijakan moneter adalah untuk pengendalian ekonomi secara makro agar tercipta
kestabilan ekonomi dengan mengatur jumlah yang beredar. Dengan terkendalinya peredaran
uang, inflasi bisa dikendalikan. Selain pengaturan jumlah uang yang beredar,
instrument kebijakan moneter lainnya yakni penetapan suku bunga acuan dari bank
sentral. Apabila kestabilan dalam kondisi perekonomian terganggu, maka
kebijakan moneter bisa digunakan untuk memulihkan atau stabilisasi. Pengaruh
kebijakan moneter pertama kali bakal dirasakan oleh sektor perbankan, yang
kemudian berlanjut pada sektor rill.
Secara
umum, berikut tujuan kebijakan moneter:
·
Stabilitas ekonomi
·
Stabilitas harga
·
Stabilitas neraca pembayaran
·
Membuka lapangan pekerjaan
Di
seluruh dunia, instrumen kebijakan moneter selalu dinantikan para analis
ekonomi, investor, bankir, dan sebagainya. Ini karena setiap kebijakan moneter
akan berpengaruh pada ekonomi secara makro.
Kebijakan
moneter adalah dibuat oleh bank sentral berdasarkan analisa dan masukan seperti
tingkatan inflasi, pertumbuhan ekonomi, investasi, perdagangan internasional,
dan faktor lainnya. Contoh kebijakan moneter adalah pengendalian inflasi. Saat
inflasi tinggi, artinya uang yang beredar terlalu banyak, sehingga bank sentral
akan mengambil kebijakan moneter dengan menarik uang yang beredar lewat
kebijakan kenaikan suku bunga.
Saat
suku bunga tinggi, otomatis akan menarik masyarakat untuk menyimpan uangnya di
perbankan atau instrumen lainnya ketimbang menggunakannya untuk konsumsi.
Berikut ini beberapa instrumen kebijakan moneter:
·
Operasi pasar terbuka berbentuk kegiatan
jual beli surat-surat berharga oleh bank sentral, baik di pasar primer maupun
pasar sekunder melalui mekanisme lelang atau non lelang.
·
Fasilitas diskonto adalah fasilitas
kredit dan atau simpanan yang diberikan oleh bank sentral kepada bank-bank
dengan jaminan surat-surat berharga dan tingkat diskonto yang ditetapkan oleh
bank sentral sesuai dengan arah kebijakan moneter.
·
Cadangan wajib minimum adalah jumlah
alat likuid minimum yang wajib dipelihara oleh bank komersial.
Penggunaan
suku bunga sebagai sasaran operasional kebijakan moneter di Indonesia adalah
salah satu alternatif pendekatan untuk meningkatkan kinerja kebijakan moneter
Bank Indonesia adalah dengan menerapkan sistem pengendalian moneter menggunakan
suku bunga sebagai sasaran operasional. Berkaitan dengan itu, hasil penelitian
menunjukkan bahwa terdapat suatu keyakinan yang cukup kuat bahwa transmisi
kebijakan moneter melalui suku bunga semakin menjadi penting dibandingkan dengan
transmisi melalui jumlah uang beredar sehingga penerapan sistem pengendalian
moneter menggunakan suku bunga sebagai sasaran operasional layak untuk
dipertimbangkan. Terdapat hubungan yang cukup erat antara laju inflasi dan suku
bunga (deposito berjangka satu bulan dan kredit modal kerja, dan suku bunga
PUAB dapat dipertimbangkan untuk menjadi sasaran operasional karena memiliki
kaitan yang erat dengan suku bunga deposito, mencerminkan kondisi likuiditas di
pasar uang, dan sekaligus dapat dipengaruhi oleh instrumen OPT khususnya suku
bunga SBPU.
Terdapat
beberapa syarat bagi efektivitas sistem pengendalian moneter menggunakan suku
bunga sebagai sasaran operasional, yaitu sasaran akhir kebijakan moneter
sebaiknya di prioritaskan kepada pengendalian underlying/core inflation, yaitu
komponen inflasi yang diyakini benar-benar di pengaruhi faktor-faktor moneter.
Untuk meminimalkan pengaruh negatif tekanan-tekanan eksternal terhadap
efektivitas kebijakan moneter, sistem nilai tukar yang fleksibel (mengambang) menjadi
pilihan utama dibandingkan dengan sistem nilai tukar tetap. Anggaran pemerintah
harus “fully budget” dalam arti setiap defisit/surplus anggaran harus setiap
saat dibiayai/diserap oleh instrumen utang pemerintah. Untuk memelihara
kestabilan permintaan di pasar uang, kinerja sistem pembayaran harus
terus-menerus ditingkatkan.
baik..,penjelasannya juga jelas dengan rinciannya
BalasHapusMakasih yah🙏
HapusMenarik materinya👍
Hapus